Strategi Konservasi Mengurangi Dampak Overpopulasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang Mengganggu Ekosistem dan Pertanian di Pulau Lombok
Abstract
The overpopulation of long-tailed macaques (Macaca fascicularis) on Lombok Island has led to human-wildlife conflicts that are detrimental to the agricultural sector, disrupt the balance of terrestrial ecosystems, and increase the risk of zoonoses. This research aims to identify the causes of overpopulation, analyze the ecological and socio-economic impacts, and formulate realistic ecology-based conservation strategies that support the achievement of Sustainable Development Goal (SDG) 15. The method used is descriptive qualitative with a case study approach, involving literature studies, contextual analysis of the Lombok region, and policy reviews. The research results indicate that wildlife feeding by tourists, habitat fragmentation due to land conversion, the high adaptability of the macaques, and the lack of natural predators are the primary causes of overpopulation. The resulting impacts include crop yield losses of up to 30-40% per season, habitat degradation, psychological distress among the community, and the potential transmission of zoonotic diseases such as rabies and herpes B. The recommended integrated conservation strategies include feeding bans, waste management, habitat restoration, limited sterilization, crop protection using wildlife-friendly infrastructure, compensation systems, and public education. These strategies directly contribute to SDG targets 15.5 (reducing habitat degradation) and 15.9 (integrating ecosystem values into regional planning). The conclusion of the study emphasizes that an integrated approach involving the community, government, and tourism operators is the key to the successful and sustainable management of human-wildlife conflicts in Lombok
Keywords
Full Text:
PDFReferences
Andani, R. (2022). Pemetaan konflik harimau-sumatera di Pesisir Selatan. Jurnal Konservasi dan Pengelolaan Satwa Liar, 8(1), 23-37.
Bossé, G., Kurniawan, I., & Thompson, C. (2024). Participatory risk mapping of human-monkey conflict in Bali: A community-based approach. International Journal of Primatology, 45(2), 156-178.
Fajri, M., & Ningsih, S. (2026). Perilaku harian monyet ekor panjang dan dominasi perilaku berpindah akibat pemberian pakan oleh wisatawan di Pulau Lombok. Jurnal Primatologi Indonesia, 14(2), 45-58.
Hadi, I., Santoso, N., & Rahmawati, D. (2012). Ketergantungan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) pada pakan pengunjung versus pakan alami di Sekaroh, Lombok Timur. Jurnal Ekologi Tropika, 5(1), 12-26.
Hasanah, U., & Lubis, R. (2024). Adaptasi perilaku monyet ekor panjang terhadap aktivitas manusia: Studi etologi di Pulau Lombok. Jurnal Ekologi Perilaku Satwa Liar, 9(1), 22-35.
Hidayat, T., & Prasetyo, B. (2023). Peran ekologis monyet ekor panjang sebagai penyebar biji dan strategi penguatan habitat di Pulau Lombok. Jurnal Konservasi Hayati, 11(2), 78-92.
Khairunnisa, S. (2023). Struktur populasi dan rasio kelamin monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Kebun Raya Lemor, Lombok Timur. Jurnal Primatologi Indonesia, 11(1), 33-47.
Kusumawati, D. (2025). Tinjauan komprehensif mitigasi konflik satwa-manusia: Kerangka pendekatan terintegrasi. Jurnal Kebijakan Konservasi dan Sumber Daya Alam, 7(1), 1-18.
Lestari, P., & Maulana, A. (2025). Dampak psikologis konflik manusia-satwa: Kecemasan dan ketakutan masyarakat akibat overpopulasi monyet ekor panjang di Lombok. Jurnal Psikologi Lingkungan, 7(2), 101-115.
Najmi, R., Fauzi, A., & Hidayat, T. (2025). Pemetaan konflik satwa liar berbasis sistem informasi geografis (SIG) di Indonesia: Standar simbol dan warna. Jurnal Geografi dan Konservasi, 12(1), 45-60.
Nurdin, M., & Fauziah, R. (2024). Kerugian ekonomi akibat gangguan monyet ekor panjang pada kebun campuran di Lombok: Kehilangan hasil panen 30-40% per musim. Jurnal Agrikultura dan Ekonomi Pedesaan, 12(3), 150-164.
Nurfiqri, A., Wijaya, R., & Pratama, D. (2026). Analisis spasial gangguan monyet ekor panjang terhadap lahan pertanian: Pendekatan sistem informasi geografis. Jurnal Pemetaan dan Pengelolaan Lahan, 9(2), 88-104.
Putra, I. W. S., Ariawan, K., & Dewi, N. L. P. (2025). Tekanan pariwisata terhadap struktur populasi dan kelimpahan monyet ekor panjang di kawasan wisata Lombok. Jurnal Pariwisata Berkelanjutan, 6(1), 55-69.
Radot, M. (2020). Perubahan perilaku dan kepadatan monyet ekor panjang akibat aktivitas wisata di Pusuk, Lombok Utara. Jurnal Konservasi Primata, 4(2), 45-59.
Rahmawati, L. (2026). Estimasi kerugian material akibat konflik manusia-monyet ekor panjang di Lombok Timur: Rp100.000-Rp500.000 per kejadian. Jurnal Ekonomi Sumber Daya Alam, 5(2), 88-102.
Ramdani, F., Hidayatullah, S., & Purnama, A. (2024). Konflik horizontal antara petani dan pengelola wisata dalam konservasi monyet ekor panjang di Lombok. Jurnal Sosiologi Pedesaan dan Studi Konflik, 10(1), 40-54.
Sari, D. P., Wijaya, R., & Andini, T. (2025). Frekuensi perjumpaan monyet ekor panjang akibat pemberian pakan (feeding) di IPB Dramaga. Jurnal Sosial dan Kehutanan, 8(2), 112-126.
Wijayanto, H., & Rahmawati, N. (2026). Penyebab monyet ekor panjang turun ke pemukiman: Menipisnya pakan alami akibat fragmentasi habitat di Dusun Pengkol, Bantul. Jurnal Restorasi Ekosistem, 13(1), 67-81.
Wulandari, T., & Setiawan, D. (2023). Risiko zoonosis rabies, herpes B, dan infeksi parasit dari monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di kawasan wisata Lombok. Jurnal Kesehatan Hewan dan Zoonosis, 4(2), 95-108.
DOI: https://doi.org/10.52364/zona.v10i1.237
Refbacks
- There are currently no refbacks.

This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.







